Konsumsi Pangan Lokal

Peningkatan Pangan Lokal

Peningkatan pangan lokal menjadi program pemerintah dalam upayakan perbaikan kualitas pangan dan gizi masyarakat. Salah satunya dengan diversifikasi pangan. Program tersebut termasuk salah satu Upaya Khusus (UPSUS) dalam rangka meningkatkan produksi padi Nasional.

Diversifikasi diupayakan dengan tujuan agar konsumsi pangan yang ada saat ini beragam, terlebih dalam hal kandungan gizi yang dikonsumsi dari makanan. Upaya pencapaian Kedaulatan Pangan Nasional, terkait dengan mutu beras dan bahan pangan lain yang juga tak kalah penting. Diversifikasi pangan merupakan salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap beras, karbohidrat, terigu, selain juga untuk memberi makanan yang berimbang, bergizi, dan aman kepada masyarakat. Konsumsi kedelai, jagung dan alternativ pangan lainnya sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi yang baik serta seimbang.

Ketahanan pangan juga dilihat dari segi mutu bahan pangan, salah satunya beras. Bicara soal mutu pastinya tak lepas dari Harga Pokok Produksi (HPP) yang nantinya akan berpengaruh pada Harga Eceran (HET). Pemerintah Indonesia menetapkan Harga Eceran Tunai untuk beras kualitas premium di angka Rp. 12.800,-/kg sedangkan untuk beras medium di angka Rp. 9.450,-/kg.

Adanya ketetapan dan aturan pemerintah terkait Harga Eceran Tertinggi membuat produsen dan petani berfikir untuk meproduksi beras dengan harga seminim mungkin. Penekanan Harga Pokok Produksi (HPP) dilakukan untuk menyesuaikan dengan ketetapan pemerintah, namun produsen dan petani masih bisa mendapat keuntungan. Kemungkinan pengurangan kualitas pasti ada setiap penekanan harga produksi, namun bagaimana memproduksi beras dengan bahan baku dan kualitas sebaik mungkin, dengan harga yang relativ rendah dan efisien (sesuai standart yang ditetapkan).

Ketetapan terkait Harga Eceran Tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah bertujuan agar tercapainya stabilitas dan kontrol harga di pasaran. Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah masih menjadi pertimbangan dikalangan produsen dan petani. Pasalnya harga bahan baku Gabah yang masih terbilang tinggi, yaitu masih berkisar diatas Rp. 5.000,-/kg menjadi persoalan terkait peningkatan mutu dan konsumsi pangan Nasional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *