Mengembalikan Warisan Budaya Yang Mulai Hilang

Milenial Bertani

Mengembalikan Warisan Budaya Yang Mulai Hilang  

Milenial bertani sedang menjadi perhatian dan popular saat ini. Banyak anak muda yang sudah mulai sadar dengan profesi bertani akan meraup keuntungan dan masa depan yang cemerlang, karna dari bertani kita akan menghasilkan manfaat dan bahan makanan yang kita konsumsi untuk bertahan hidup. Pemerintah juga sedang gencar dan giat untuk meningkatkan sektor pertanian guna menopang kekuatan dan ketahanan pangan dimasa kini dan masa yang akan datang.

Bilamana budidaya tani yang sejak dari dulu dilakukan nenek moyang kita tidak diteruskan, tentu akan mengancam keberlangsungan hidup dan pangan dimasa yang akan datang. Pola pikir dan cara pandang terhadap profesi bertani yang rendah itu kian berlanjut, hingga tiba saatnya kini generasi milenial yang mengambil alih. Sebagai generasi penerus, budaya warisan nenek moyang negeri ibu pertiwi itu adalah sebuah kebanggaan, jati diri bagi bangsa Indonesia yang senantiasa gemah ripah loh tjinawi.

Beruntung, Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan bumi pertiwi ini dengan tanah yang subur. Seperti kata pepatah dahulu “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” maka benar saja, apa yang diusahakan untuk kita budidayakan ditanah ini dapat tumbuh dengan baik. Zaman penjajahan dulu, colonial Belanda datang ke Nusantara (sebut: Indonesia) selain membawa misi 3G (Gold, Gozpel, Glory) juga mencari kekayaan untuk dibawa ke negeri asalnya, negeri kincir angin. Kekayaan yang dicari di bumi pertiwi ini tidak lain adalah rempah-rempah alami nan subur langsung dari sumbernya yang dimanfaatkan dan berlimpah ruah untuk dibawa ke negeri Belanda dan diperjual belikan disana.

Melihat sejarah Nusantara yang kaya raya sejak dahulu, penjajah Belanda melalui tangan besi Gubernur Jenderal Van Den Bosch menerapkan sistem tanam paksa (culturstelsel) dengan memanfaatkan rakyat dan petani Indonesia untuk menanam padi, gandum, kedelai, dan jenis tanaman pangan dan rempah lainnya untuk dimanfaatkan (secara paksa) hasil panennya bagi negeri Belanda. Rakyat Indonesia saat itu mengalami kerugian besar. Dari sektor pertanian sebagai wilayah agraris yang kaya raya, akan tetapi rakyatnya miskin dan kelaparan akibat hasil bumi Nusantara dikeruk dan dirampas oleh penjajah. Seluruh hasil pertanian (padi, gandum, kedelai, jagung, dll) diambil oleh kompeni Belanda tanpa sedikitpun rakyat merasakan hasil bumi yang ditanamnya dinegeri sendiri. Hal ini mengakibatkan busung lapar dan gizi buruk pada sebagian besar rakyat Hindia Belanda (Nusantara).

Sungguh ironis dibalik gemerlap kehidupan warga Belanda, rakyat Pribumi menderita kelaparan ditanahnya sendiri. Pembelajaran masa lalu menyadarkan generasi penerus bangsa bahwa ketika kita menguasai pangan, maka ketahanan dan kekuatan akan diraih. Tujuan utama mengembangkan pertanian adalah untuk menjaga stabilitas, kekuatan, dan ketahanan pangan.

Warisan budaya nenek moyang Nusantara tidak bisa dipisahkan dari bertani. Saat ini tidak hanya untuk melestarikan pangan, namun pertanian juga bermanfaat sebagai sarana edukasi dan pariwisata. Tentu hal itu guna memupuk rasa syukur atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa telah melimpahkan kekayaan alam yang tidak ternilai, Bumi Pertiwi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *