Get Adobe Flash player

  SEKILAS PT PERTANI (PERSERO)

(PT PERTANI (PERSERO) AT GLANCE)

1959

Dibentuk Badan Perusahaan Produksi Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah (BPMPT).

1960

Terjadi perubahan dari BPMPT Menjadi Badan Pimpinan Umum Perusahaan Pertanian Negara (BPU Pertani).

1963

 BPU Pertani berubah menjadi Perusahaan Pertanian Negara (PN Pertani).

1970-1971

PN Pertani ditunjuk sebagai distributor pupuk kepada petani dengan porsi lebih dari 50% jumlah yang didistrbusikan di seluruh Indonesia.

1973

Status PN Pertani ditingkatkan menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Pertani (Persero).

1998

Dilakukan perubahan terhadap Anggaran Dasar Perseroan oleh Notaris Imas Fatimah, SH.

2002

Kembali dilakukan perubahan terhadap Anggaran Dasar Perseroan oleh Notaris Mintarsih Natamihardja, SH.

2003

Dibentuk Strategic Business Unit Perberasan dan Strategic Business Unit Hortikultura dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

2004

Strategic Business Unit Perberasan dan Strategic Business Unit Hortikultura mulai beroperasi satu tahun setelah pembentukan.

2007

PT Pertani (Persero) ditugaskan oleh Pemerintah melalukan pelayanan publik kepada petani dalam bentuk Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).

2008

Penugasan pelayanan publik oleh PT Pertani (Persero) mengalami perluasan dari semula hanya benih, tahun 2008 ditambah paket bantuan pupuk dalam bentuk Bantuan Langsung Pupuk (BLP). Perseroan juga sudah melakukan perintisan usaha pergudangan dengan Sistem Resi Gudang (SRG), dengan unit pergudangan pertama SRG adalah Unit Pergudangan Haurgeulis, di Indramayu Jawa Barat.

2010

PT Pertani (Persero) membangun jaringan sistem teknologi informasi berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) untuk membangun manajemen sistem informasi yang terintegrasi. Perintisan pengembangan jaringan Toko Pertanian Swalayan Indonesia (TOPSINDO) di sentra pertanian, dimulai dengan pembukaan Jaringan TOPSINDO pertama di Haurgeulis, Jawa Barat.

2011

PT Pertani (Persero) berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) dengan realisasi lahan tahun 2011 lebih dari 280.000 ha. Pengembangan TOPSINDO tahap awal dilakukan di 12 lokasi lain yang tersebar di 11 provinsi mulai dari NAD s/d NTB, dan ke utara s/d Sulawesi Tengah. Keberhasilan pemantapan kegiatan pengelolaan gudang dengan Sistem Resi Gudang (SRG) ditandai dengan bertambahnya unit yang dikelola menjadi 34 unit gudang SRG yang mampu menampung 8.000 ton beras.

scroll back to top